Penguatan Perpustakaan Desa di Kabupaten Gunung Mas melalui Transformasi Digital & Inklusi Sosial
Foto bersama peserta kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2026 di Kuala Kurun
Kuala Kurun - Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan perpustakaan, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2026 di Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Pada Hari selasa 05/05/2026.
Kegiatan yang dilaksanankan di aula Dispursip Kabupaten Gunung Mas ini secara resmi dibuka oleh dr. Maria Efianti, M.A.P. selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Mas, yang menyampaikan pentingnya pengembangan perpustakaan berbasis teknologi dan inklusi sosial sebagai sarana peningkatan literasi serta pemberdayaan masyarakat desa. "Saya berharap tidak sampai disini, tapi ibu bapak peserta bisa terus mengembangkan pengetahuan ini nantinya" Katanya.
Narasumber dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah dilibatkan dalam kegiatan yang melibatkan 27 perpustakaan desa/kelurahan beserta para pengelola perpustakaan desa yang berperan langsung dalam meningkatkan literasi masyarakat di tingkat lokal.
Praktek penggunaan Canva dimentoring oleh mahasiswa magang, dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2026 di Kuala Kurun
Materi utama yang disampaikan adalah Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) oleh Febrianto Boediman, S.Sos., M.A, Plt. Kepala Bidang Layanan, TI dan Kerja Sama Perpustakaan, menekankan 3 pilar penting dalam strategi program perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar, pemberdayaan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai berikut : 1. Peningkatan Layanan Peningkatan layanan perpustakaan dilakukan melalui transformasi digital, integrasi layanan, dan pendekatan proaktif untuk meningkatkan minat baca serta kepuasan pengunjung. Strategi utama meliputi penyediaan buku bermutu, ruang baca ber-AC dingin dan nyaman, penggunaan internet,Menyediakan aplikasi mobile untuk membaca e-book atau e-magazine kapan saja dan di mana saja, dan perpustakaan keliling.
2. Pelibatan Masyarakat Melalui pendekatan ini masyarakat bukan hanya sebagai pengguna jasa atau sekadar tempat menyediakan buku menjadi pusat pembudayaan kegemaran membaca masyarakat. Tetapi juga memfasilitasi masyarakat sebagai tempat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan.
Narasumber dan Pelatih berfoto bersama Kepala Dispursip Kab. Gumas dr. Maria Efianti, M.A.P.
3. Advokasi Serangkaian upaya terencana yang dilakukan oleh perpustakaan untuk mempromosikan, mengembangkan, dan mendapatkan dukungan guna menjamin keberlanjutan program perpustakaan.
Tidak hanya itu, mahasiswa magang dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah oleh Alya Putri, Gemala Natalia Roka dan Eka Kurniawan mahasiswa Universitas Palangka Raya, Program Studi Manajemen FEB, dan di pandu langsung oleh Dosen pembimbing lapangan Dr. Meitiana, S.E., M.M, turut memberikan kontribusi nyata dengan menyalurkan kreativitas mahasiswa melalui pelatihan penggunaan aplikasi Canva kepada 27 pengelola perpustakaan desa di Kabupaten Gunung Mas
Melalui praktik langsung menggunakan laptop, mahasiswa magang membantu peserta mampu membuat desain digital pengelola perpustakaan, mendukung pembuatan media promosi dan informasi yang lebih menarik, dan mendorong peningkatan kualitas layanan publik berbasis digital untuk mempermudah penyebaran informasi kegiatan perpustakaan kepada masyarakat.
Antusiasme peserta juga terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satunya disampaikan oleh Bapak Siswanto selaku pengelola TBM yang mengikuti pelatihan dengan penuh semangat dan aktif dalam kegiatan sosialisasi serta dalam praktik penggunaan Canva sebagai media promosi perpustakaan digital. "Saya senang karena pelatihan ini langsung kami mengolah sendiri desain-desain poster, bisa langsung kami implementasi terhadap perpustakaan kami". Jelasnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan mahasiswa mampu menghadirkan inovasi sederhana namun berdampak besar dalam pengembangan perpustakaan desa yang modern, inklusif, dan berbasis teknologi. Dan diharapkan perpustakaan desa/kelurahan mampu bertransformasi menjadi ruang inklusif yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat. (AL / Foto : Ans)
Leave Your Comments